HATIKU ITU SEMPIT

Gambar
Kau bilang ku yang termanis... Itu sudah biasa. Kau bilang aku yang terbaik... Sudah sering ku dengar. Kau puji aku setiap hari. Hingga hatiku bergetar...cinta... Tak sanggup menahan bahagia. Kau nyaman berada di sisiku. Ku harap itu bukan bualan. Yang kan menguap disiang hari. Saat panas hati tak tertahankan. Melihat yang lebih baik dari aku. Orang kaya itu banyak. Orang ganteng juga banyak. Yang tulus sama kamu? Cuma diriku. Aku tak akan kembali lagi. Jika kamu berkhianat sekali. Karna prisip cintaku hanya ada satu. Setialah sampai mati. Karna aku juga orang yang setia. Berhenti mencari cinta saat kutemukan dirimu. Karena ruang hatiku itu sempit. Hanya cukup untuk kamu sayang... #ricuvani Sabtu, 14 Oktober 2020 11:22

BLACK EYE Part 02


   Suasana kelas menjadi hening. Ricuva sekarang menjadi pusat perhatian. Samonelast yang sedari tadi tidak menyadarinya, mulai merasa aneh. Sebagai kakak, ia tidak bisa membiarkan adiknya seperti tersudut.

"Kamu jangan khawatir, ini baru permulaan keanehan di sekolahan ini. Seterusnya, kamu harus siap menerima hal yang lebih tidak masuk akal lagi di sini" ucap Pak Jonathan yang sepertinya di tujukan kepada Ricuva.

   Samonelast menepuk pundak kiri adiknya itu, ia membisikan kata-kata penenang dan semangat. "Semua akan baik-baik saja, asalkan berjalan di jalan yang benar-benar saja".

   Pak Jonathan adalah guru biologi, metode belajarnya memang normal seperti kebanyakan guru pada umumnya. Menulis, menjelaskan, memberi pertanyaan dll. Tapi yang membuat dia aneh adalah caranya menulis di papan tulis dan caranya membuka buku. Ia bisa menggerakan spidol untuk menulis tanpa menggunakan tangan, ia juga bisa membuka buku tanpa menyentuhnya, tanpa bantuan tangannya.

   Joe tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat ekspresi dari Samonelast dan Ricuva yang sepertinya sangat heran dengan apa yang dilihatnya.

   Satu jam pelajaran biologi dilalui Samonelast dan Ricuva dengan masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Bagaimana mereka bisa konsentrasi terhadap pelajaran kalau cara mengajarnya seperti di dunia sihir saja.

   Samonelast tidak bisa tinggal diam, kalau semua guru di sekolahan ini mengajarnya seperti pak Jonathan. Bisa-bisa mereka jadi stres, terutama Ricuva yang cara berpikirnya menganut ilmu logis.

   Saat jam istirahat tiba, dia dan Ricuva menemui Joe di kantin sekolah. Niatnya tentu saja ingin tahu lebih banyak tentang misteri sekolahan ini dan juga tentang kekuatan mata.

   Joe terlihat sedang duduk santai sambil menikmati mie rebusnya. Dia duduk sendirian, mungkin karena dia sebagai pemimpin kelas dan paling ditakuti, membuatnya tidak memiliki banyak teman.

   Mereka menghampiri mejanya. Joe melirik sedikit ke arah mereka. Secepat kilat mie ia habiskan. Seperti buaya saja.

"Kalau kalian mau bertanya tentang sekolahan ini dan juga kekuatan mata, kalian datang pada orang yang tepat" ucap Joe.

   Samonelast dan Ricuva sudah tidak heran lagi, Joe memang bisa membaca isi pikiran dan hati mereka.

"Iya, kita harus tahu semua itu agar kita bisa tenang  belajar di sini" ucap Samonelast.

"Orang-orang di sekolahan ini aneh, banyak yang jadi pesulap" tambah Ricuva.

   Joe mengambil es tehnya yang ada di meja dan menengguknya sebanyak 3 kali.

"Hufff...Pertama-tama saya ingin menjelaskan tentang kekuatan mata. Kekuatan mata itu ada 11: putih, abu-abu, ungu, biru, hijau, kuning, jingga, merah, coklat, emas dan hitam...".

"Tuhkan hitam termasuk, kakak sok tau sih" sela Ricuva untuk mengejek kakaknya.

   Samonelast terlihat kesal, dia mencubit pipi adiknya dengan cukup keras.

"Awwwww!!!" Erang Ricuva.

   Kali ini Joe yang emosi, ia memengang garpu yang ada di mangkok bekas mie rebusnya, lalu meremukan gagangnya menjadi seperti abu dengan tangan kosong.

   Samonelast dan Ricuva langsung diam dan cukup ketakutan.

"Sekarang udah tenangkan? Oke saya lanjutkan. Kekuatan mata dibagi menjadi 2 jenis tipe kekuatan, yaitu kekuatan fisik dan psikis. Kekuatan fisik tentu saja bisa membuat penggunanya memiliki kekuatan fisik yang luar biasa dari pada manusia pada umumnya. Dan kekuatan psikis adalah kekuatan yang sifatnya merusak tanpa menyentuh atau bisa juga disebut kekuatan magic. Kekuatan mata yang masuk kategori kekuatan fisik adalah biru, kuning, jingga, merah dan coklat. Dan kekuatan mata yang masuk kategori kekuatan psikis adalah putih, abu-abu, ungu dan hijau. Setiap kekuatan mata cuma punya satu tipe kekuatan, kecuali kekuatan mata emas dan mata hitam. Dua kekuatan tersebut mempunyai kekuatan fisik dan juga psikis".

   Samonelast mulai merasa tertarik dengan kekuatan mata, sementara Ricuva terlihat acuh tak acuh, dia santai saja sambil meminum es jeruk peras.

"Kenapa kekuatan mata emas dan hitam bisa mempunyai dua tipe kekuatan?".

"Pertanyaan bagus. Karena warna emas itu bukanlah warna umum, warna emas adalah warna spesial yang konon katanya diciptakan oleh dewa Bragi, yaitu dewa matahari pemberi cahaya pada bumi. Dan kalau kekuatan mata hitam, tentu saja itu kekuatan dari iblis. Kekuatannya tentu tidak main-main, itu musuh utama kami. Karena semua orang bisa dengan mudah mendapatkan kekuatan mata hitam, sedangkan untuk mendapatkan kekuatan mata yang lainnya itu susah".

"Kenapa bisa mudah mendapatkannya?".

"Karena iblis suka menggoda manusia yang mentalnya lemah. Orang yang frustasi terhadap karir, masa depan atau ingin mendapat prestasi di sekolahan seperti kita ini. Iblis akan menawarkan kekuatan mata tersebut, dan kamu tentu sudah bisa menduga jawabannya, tentunya mereka semua pada terbujuk. Orang yang mempunyai kekuatan mata hitam, mereka bisa mengetahui jawaban dari setiap soal ulangan maupun ujian. Dengan mengaktifkan kekuatan matanya, maka jawaban dari soal-soal tersebut akan muncul secara tersamar di lembar jawaban, tinggal ditebal-tebalin saja pakai bolpoin atau pensil".

"Hmmm. Bukankah setiap kekuatan mata itu bisa melakukan hal seperti itu, buktinya kamu bisa membaca isi hati kami, anak-anak di kelas juga bisa. Padahal kekuatan matamu coklat, bukan hitam".

"Hehehehe, membaca isi hati dan nama seseorang adalah teknik dasar dari kekuatan mata, tapi itu tergantung level kemampuan seseorang mengendalikannya. Jika kamu mempunyai level kekuatan mata yang lebih tinggi dari aku, aku tidak bisa membaca isi hati kamu dan juga namamu, tapi kamu bisa sebaliknya. Dan satu lagi, hanya kekuatan mata hitamlah yang bisa melakukan hal-hal negatif seperti mengetahui kunci jawaban ulangan atau ujian, meracun seseorang hanya dengan berucap, dan juga memasukan seseorang ke dalam alam iblis".

   Masih banyak yang ingin Samonelast tanyakan kepada Joe, tapi bel tanda masuk pelajaran sudah berbunyi. Joe menawarkan waktu untuk bertemu lagi pada hari minggu di markas para pemilik kekuatan mata yang biasa disebut PAKEM (Pasukan Kekuatan Mata). Ia juga berniat membangkitkan kekuatan mata Samonelast dan mengajaknya untuk bergabung ke kelompoknya.

   ***

   Isabel sedang duduk sendirian di tepi danau Akaz di sore hari pukul 17:30. Matanya menatap tajam ke arah air yang ada di danau. Air danau kemudian bergejolak seperti ada gempa bumi, semakin lama semakin hebat dan kuat gejolak airnya. Ikan-ikan mulai nampak di permukaan air, lalu mati. Dua ekor buaya cukup besar terlihat sedang berusaha ke daratan tapi tubuh mereka tiba-tiba meledak dengan sendirinya, air danau menjadi merah bercampur darah.

"Anak ayah memang luar biasa" ucap seseorang.

   Isabel menghentikan kekuatan psikisnya. Tapi matanya masih menatap tajam dan dingin ke arah danau.

"Sekte kita sepertinya akan mulai terusik ayah".

   Seorang pria paruh baya berumur 52 tahun dengan memakai jubah hitam lengan pendek, yang posisinya berada di samping kiri Isabel. Tersenyum dengan dingin. Tangannya kemudian mengusap pelan rambut Isabel.

"Ayah juga sudah merasakannya sejak seminggu yang lalu, tapi untuk sementara kita masih bisa tenang. Mereka belum mampu membangkitkan kekuatan matanya. Orang yang mewarisi kekuatan dewa Bragi memang perlu diwaspadai. Ayah akan menemui baginda raja untuk membicarakan hal ini".  Ayah Isabel seketika menghilang menjadi asap hitam.

***

   Samonelast dan Ricuva pergi untuk berkeliling di sekitar desanya dengan memakai sepeda ontel. Lagi asyik-asyiknya mereka bersepeda, ban belakang sepeda Ricuva tiba-tiba kempes. Setelah diperiksa ternyata ada paku yang menancap.

"Aduhh apes banget!! Mana kita ngga tahu tukang tambal ban ada dimana?!" Gerutu Ricuva.

   Samonelast kemudian menyentuh areal ban yang tertancap paku dengan jari telunjuk kanannya. Ia lalu memejamkan kedua matanya, otaknya membayangkan lubang yang terkena paku itu bisa rapat kembali dan ban kembali lagi terisi dengan angin.

   Tangannya mulai terasa berat, jari telunjuknya mulai agak panas. Serasa ada sesuatu yang mengalir dari mata menuju ke jari telunjuknya. Secara ajaib, ban yang semula kempes mulai terisi angin lagi dan lama kelamaan semakin keras. Samonelast coba melepaskan jari telunjuknya dari lubang ban bekas yang terkena paku itu. Kini lubang itu sudah tidak ada lagi, sudah rapat seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

   Ricuva yang melihatnya hanya melongo seakan tidak percaya.

"Ka...kakak punya kekuatan mata?".

   Samonelast masih terdiam sambil memandang kedua tangannya yang gemetar dengan rasa tidak percaya.

"Aku masih belum mengerti, tapi rasanya seperti ada kekuatan yang mengalir dari mata kakak menuju ke ujung jari".

   Untuk menjawab rasa penasarannya apakah ia memang memiliki kekuatan mata atau tidak, ia mencoba kembali memejamkan kedua matanya. Ia membayangkan sepedanya bisa terbang. Energi mulai terasa lagi bergejolak di kedua matanya, rasanya sedikit panas, sehingga ia membuka matanya.

   Ricuva langsung tersungkur mental 5 meter ketika tidak sengaja melihat kedua mata kakaknya yang berubah menjadi warna keemasan. Setiap objek yang di lihat oleh Samonelast menjadi terpental. Pohon mangga sebesar tiang telepon menjadi miring hampir tumbang, sepedanya terpental dan nyangkut di ranting pohon mangga itu, kursi taman yang dipasang permanen di pinggir jalan raya, hanya menyisakan kaki kursinya saja.

   Samonelast berusaha sekuat tenaga memejamkan matanya lagi. Ia berkonsentrasi penuh, lalu membayangkan matanya bisa normal kembali. Rasa panas perlahan mulai menghilang, ia membuka kembali kedua matanya.

"Syukurlah sudah normal, tidak ada benda-benda yang terpental lagi...Ricuva!!!". Seketika ia teringat dengan Ricuva yang terpental 5 meter gara-gara menatap matanya. Ricuva terlihat tergeletak tak sadarkan diri di atas aspal. Darah segar keluar dari mulut dan pipi kanannya yang robek 10 cm seperti terkena benda tajam.

"Ricuva maafin kakak, kakak tidak bermaksud menyakitimu...tolonggg...tolonggg...tolonggg!!!".

   Awalnya Samonelast frustasi karena tidak kunjung ada orang yang lewat, ia bermaksud menggendong adiknya untuk pulang ke rumah. Tapi saat ia sedang berusaha mengangkatnya, seseorang menegurnya.

"Yakin mau bawa dia pulang? Kamu mau jelasin apa nanti sama orang rumah?".

   Samonelast langsung melihat ke arah orang yang menegurnya itu.

"Kamu...kamu Isabelkan? Aku tidak peduli dengan apa kata orang rumah, yang terpenting sekarang adikku selamat".

   Isabel tertawa kecil. Ia kemudian berjalan mendekati Samonelast. Tangan kanannya ia julurkan ke tangan kanan Ricuva.

"Mau apa kamu?!!".

"Diam! Kamu mau adikmu sembuh atau tidak?!".

   Akhirnya Samonelast pasrah, yang terpenting sekarang adalah keselamatan adiknya. Hari sudah semakin senja, angin malam yang muda mulai menusuk kulit-kulit mereka. Isabel terlihat sedang berkonsentrasi, matanya menatap tajam ke wajah Ricuva. Perlahan darah-darah yang ada di wajah dan mulut Ricuva menghilang, luka robek 10 cm pun ikut menghilang. Ricuva perlahan-lahan sadar kembali.

   Hal pertama yang diucapkannya adalah rasa keterkejutannya kepada kakaknya.

"Kak, kamu benar-benar memiliki kekuatan mata emas, tadi aku melihat mata kakak hitam-hitamnya berubah menjadi warna emas, lalu aku terpental dan...dan...dan, aku pinsan ya kak?" Ucap Ricuva yang kemudian menjadi bingung atas apa yang terjadi pada dirinya.

"Maafkan kakak ya? Kakak tidak bermaksud menyakitimu. Kakak lebih baik tidak usah memiliki kekuatan mata tersebut, dari pada harus membahayakan orang lain".

"Kakak hanya perlu mengendalikannya saja. Itu keren kak, aku jadi iri sama kakak. Coba aku punya ya...".

   Ricuva menghentikan omongannya saat ia menyadari ada seorang gadis yang sudah pernah dilihatnya.

"Hmmm. Kayaknya aku pernah lihat ini orang, kamu gadis sombong yang ada di sekolahan pas pagi-pagi itu kan?".

   Awalnya Ricuva mau melanjukan kembali omongannya, tapi keburu pipinya dicubit oleh kakaknya dengan keras.

"Aduhhhhhh!!!...ampunn kakk!!! ampunnnn!!!".

   Samonelast lanjut memarahi Ricuva.

"Bersikaplah sopan sedikit sama penyelamatmu, dia yang menyembuhkanmu, kalau tidak ada dia pasti sekarang kamu sudah modar".

   Ricuva seakan tidak percaya dan ia juga gengsi.

"Mana mungkin, emang ia dokter?".

"Dia mengobatimu secara magic, dia juga mungkin memiliki kekuatan mata" ucap Samonelast.

   Kini perhatian mereka tertuju kepada Isabel.

"Kamu memiliki kekuatan matakan? Tidak mungkin kamu bisa menyembuhkan adikku dengan cara seperti itu jika tidak memiliki kekutan tertentu".

   Isabel hanya tersenyum sombong, ia tidak menjawab pertanyaan dari Samonelast dan berjalan pergi begitu saja.

"Biarpun dia yang menyelamatkanku, tapi kalau sikapnya sombong begitu, tetap bikin emosi juga!!" Ucap Ricuva.

   Hari terus berjalan, hingga tibalah sekarang hari minggu, hari dimana Samonelast dan Joe membuat janji untuk bertemu. Joe mengirim lokasi tempat markas mereka melalui fitur sharelock di WA. Samonelast pergi ke lokasi yang di tuju dengan menggunakan sepeda motor sportnya, berboncengan dengan Ricuva.

   Lokasinya cukup jauh, sekitar 10 km dari rumah mereka. Markas mereka terletak di dekat hutan pinus tapi masih di lewati jalan raya aspal.

   Mereka kemudian turun dari sepeda motornya, berjalan ke arah bangunan yang lebih terlihat seperti gudang kosong yang cukup besar. Mereka lalu memasuki gudang tersebut melalui pintu yang tidak di tutup. Mereka kemudian disambut secara istimewa.

"Selamat datang di markas PAKEM" ucap Joe yang sedang duduk di atas kursi tunggal, matanya memancarkan sinar coklat, tetapi tidak terlalu terang. Di samping kanan, kiri dan belakangnya berdiri 8 orang yang semuanya adalah teman sekelas mereka. Terdiri dari 2 perempuan dan 6 laki-laki. Masing-masing memancarkan sinar dari mata mereka dengan warna yang berbeda. Mereka benar-benar keren.

   Samonelast dan Ricuva berjalan ke arah Joe dan kawan-kawan. Joe tersenyum dengan senang. Akhirnya Samonelast datang juga ke markas mereka.

"Selamat datang dan selamat bergabung kawan" ucap Joe.

   Samonelast menatap serius ke Joe.

"Aku datang ke sini bukan untuk bergabung. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa aku tidak jadi tertarik dengan kekuatan mata. Jangan pernah mengajakku lagi untuk bergabung!!".

   Sontak semua orang terkejut mendengar perkataan dari samonelast. Joe bangkit dari tempat duduknya dengan wajah marah. Ia kemudian menghentakkan kaki kanannya ke lantai gudang, seketika gudang menjadi bergetar, barang-barang yang tertumpuk di gudang pada berjatuhan, lantai bekas hentakkan dari kaki joe pun pecah tak beraturan.

   Joe mendekati Samonelast dan mencekal kerah bajunya. Mereka berdua terlihat akan bertarung...


                     Bersambung

#ricuvani Minggu, 11 Oktober 2020 16:30

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HONEYKU

KONTRAK CINTA

KUTUKAN CINTA